V. STRUKTUR KHILAFAH


Para ulama yang melakukan penggalian nash-nash syari'ah telah berhasil merinci dan merumuskan tuntunan seputar struktur pemerintahan dan administrasi negara khilafah, sebagai acuan dalam penyelenggaraan dan tata kelola pemerintahan.

Struktur pemerintahan dan administrasi yang telah dirumuskan ini dijumpai faktanya pada masa kepemimpinan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat radhiyallahu ‘anhum, meski dalam lingkup, keadaan, dan ukuran yang beragam, seiring perluasan negeri kaum muslimin. Struktur ini dijumpai baik pada saat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin atas Madinah dan Jazirah Arab, hingga pada saat khulafa’ ar-rasyidin meneruskan kepemimpinan beliau, yang wilayahnya meluas hingga ke seluruh kawasan Syam dan Persia yang berbatasan dengan Romawi Timur di utara, merambah sebagian Afrika Utara di barat, dan mencapai Sindh di timur. Luas wilayah khilafah ar-rasyidah saat itu diperkirakan mencapai lebih dari 6,4 juta kilometer persegi. [1]

Para ulama yang telah menggali dan merumuskan struktur pemerintahan dan administrasi khilafah tersebut di antaranya adalah Imam al-Mawardi dalam Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, Imam Ibnu Taimiyyah dalam As-Siyâsah asy-Syar’iyyah fî Islâh ar-Râ’iy wa ar-Ra’yah, Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Umar ad-Dumaji dalam Al-Imâmah al-‘Uzhmâ ‘Inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, serta al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani dalam Muqaddimah ad-Dustûr au al-Asbâb al-Mûjibah Lahu dan Nidzâm al-Hukm fi al-Islâm (kitab ini kemudian disempurnakan oleh Syaikh Abdul Qodim Zallum dan dicetak dengan judul yang sama).

Terdapat pula kitab Ajhizah Daulah al-Khilâfah yang menerangkan topik ini dengan penyajian yang terperinci, mencakup struktur khilafah yang disebutkan para ulama sebelumnya.

Berdasarkan penggalian tersebut, negara khilafah dalam bentuk utuh memiliki 13 struktur, yang akan disajikan di bab ini satu per satu beserta dalil-dalilnya. Ketiga belas struktur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Al-Khalîfah (Kepala Negara Khilafah/Daulah Islamiyyah)
  2. Wazîr at-Tafwîdh (Pembantu Bidang Pemerintahan)
  3. Wazîr at-Tanfîdz (Pembantu Bidang Administratif/Kesekretariatan)
  4. Al-Wulât (Para Gubernur)
  5. Amîr al-Jihâd (Amir Jihad/Pasukan)
  6. Al-Amnu ad-Dâkhiliy (Departemen Keamanan Dalam Negeri)
  7. Al-Khârijiyyah (Departemen Luar Negeri)
  8. Ash-Shinâ'ah (Perindustrian)
  9. Al-Qadhâ' (Peradilan)
  10. Mashâlih an-Nâs (Kemaslahatan Umum)
  11. Bait al-Mâl (Pusat/Pos Kas Negara)
  12. Al-I'lâm (Penerangan)
  13. Majlis al-Ummah (Majelis Umat) [2][3][4]

Al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani (w. 1398 H) rahimahullah menjelaskan,

وإذا نقص واحد منها نقص جهازها، ولكنها تبقى دولة إسالمية ولا يضرها نقص شيء من الجهاز ما لم يكن الخليفة؛ لأنه الأساس في الدولة

“Apabila salah satu (struktur)-nya tidak terpenuhi, maka struktur negara kurang sempurna, tetapi masih terkategori sebagai daulah Islamiyyah (negara Islam/khilafah). Berkurangnya salah satu dari struktur tersebut tidak membahayakan negara, selama khalifah masih ada, karena ia adalah asas dalam (struktur) negara.” [5]

Dengan demikian, ketiadaan sebagian struktur di atas, selama struktur pertama yaitu khalifah/imam masih ada, tidak akan menegasikan keberadaannya sebagai negara khilafah/daulah Islamiyyah. Kekurangan ini hanya berakibat tidak sempurnanya struktur khilafah. Hal ini karena hakikat keberadaan negara khilafah tidak lain adalah berasas pada keberadaan seorang khalifah/imam yang diba'iat mewakili seluruh umat untuk memelihara dan mengatur urusan negara berdasarkan syari'ah Islam.


Referensi:

[1] Rein Taagepera, 1997, "Expansion and Contraction Patterns of Large Polities: Context for Russia", International Studies Quarterly, 41 (3): 495. doi:10.1111/0020-8833.00053. ISSN 0020-8833. JSTOR 2600793. Diakses tanggal 16-01-25.

[2] An-Nabhani, Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Isma’il bin Yusuf, Muqaddimah ad-Dustûr au al-Asbâb al-Mûjibah Lahu, Beirut: Dar al-Ummah, 2009, cet. ke-2 (ed. mu’tamadah), juz 1/hlm. 110-111).

[3] Zallum, Abdul Qadim, Nidzâm al-Hukm fi al-Islâm, 2002, cet. ke-6 (ed. mu’tamadah), hlm. 43.

[4] HT, Ajhizah Daulah al-Khilâfah, Beirut: Dar al-Ummah, 2005, cet. ke-1, hlm. 18-19.

[5] An-Nabhani, Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Isma’il bin Yusuf, Ad-Daulah al-Islâmiyyah, Beirut: Dar al-Ummah, 2002, cet. ke-7 (ed. mu’tamadah), hlm. 228.

results matching ""

    No results matching ""